Powered By Blogger

Selasa, 21 Desember 2010

Lagi - lagi Gayus

Menjadi seorang PR yang hebat itu tidak hanya cukup dengan performance, tekhnis, dan sikap yang bagus saja. Utamanya justru harus mampu mengemas sampah menjadi emas dalam mengubah image. PR juga tidak sekedar tidak sekedar bisa membuat catatan rilis saja, tetapi rilis yang dibuat juga harus penuh kreasi dan inovasi sehingga bisa menjadi daya tarik bagi orang lain. Sebab modal awal mengubah image itu adalah "perhatian" kalau cuek tentunya sangat susah untuk mengubah image, makannya perhatian sangatlah penting.

Saya menghargai karena IKANAS ( Ikatan Dinas) dalam hal ini memiliki fungsi dan tugas yang sangat penting bagi pembangunan pondasi dan pilar Republik Indonesia. Unfortunately, untuk Sdr. Gayus membuat anda terbebani semuanya secara negatif. Tapi saya justru selama ini termasuk orang yang percaya karena kalau saya tidak percaya, saya tidaka akan bisa bekerja dengan baik, mayoritas atau sebagian besar dari Departemen Keuangan diisi juga oleh para alumni yang berasal dari Ikatan Dinas ini berkualitas kinerja integritasnya sangat banyak dan sangat baik. Mungkin kalau saya bisa sampaikan, kegiatan seperti yang dilakukan ini perlu di pebanyak. Sehingga yang menonjol jangan hanya pada saat terjadi aib. Meskipun memang saya akui, media selalu lebih senang memuat kalau berita jelek. Kalau hal yang positif memang kadang-kadang masuk beritanya kecil dan sebentar. Tidak berarti kita lelah atau menyerah untuk bisa menyampaikan dan membuat aktivitas-aktivitas yang sebetulnya yang sangat fundamental untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saya memiliki pandangan bahwa  masalah kasus Gayus Halomoan Partahanan Tambunan ini bersifat individu, bukan bersifat institusional. Karena disini Gayus hanyalah seorang Pegawai Negri Sipil (PNS) golongan 3 yang bekerja di Dirjen Pajak Indonesia bagian pemula pajak, yang hanya memperoleh gaji berkisar antara 2-3 juta. Dia juga hanya tinggal di sebuah kontrakan kecil. Keadaan itu berbanding terbalik setelah dia melakukan korupsi di lembaga pemerintahan tersebut. Sekarang Gayus memiliki dan tinggal di sebuah rumah kawasan elit di daerah Cibubur yang telah dia beli senilai 3 Milyar. Selain itu, dia pun telah memiliki kendaraan mewah. Dia memiliki 1 orang istri dan 2 orang anak.


Sementara disini saya ingin merubah persepsi di lingkungan masyarakat, bahwa tindakan yang dilakukan Gayus merupakan sebuah tindakan individual, bukan tindakan institusional. Hanya saja dia banyak membawa nama-nama besar, satu diantaranya adalah Dirjen Pajak. Bahkan sudah samapi di dalam penjara pun Gayus masih bisa berkomunikasi dengan dunia luar, karena hanya dengan menggunakan uang sogokan yang dia ambil, dan orang-orang yang berada di dalam penjara mulai dari bawahan hingga sampai atasan dengan jumlah uang sogokan yang berbeda - beda Gayus pun dengan mudah keluar dari penjara untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan semua orang luar. Saya harapkan cara pandang masyarakat maupun teman-teman media sekalipun jangan beranggapan bahwa semua lembaga perpajakan seperti ini, masalah ini merupakan masalah individual. Saya ingin masyarakat dapat memberi kepercayaan lagi terhadap lembaga perpajakan dan mempercayakan wajib pajak kepada lembaga perpajakan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar